Denpasar – Transformasi digital membuka peluang baru bagi seniman lokal untuk terus berinovasi. Pencipta lagu Bali, Ame Naryama, menjadi salah satu yang memanfaatkan kecanggihan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), sebagai alat bantu dalam proses kreatif tanpa meninggalkan kedekatan emosional dengan kehidupan masyarakat.
Bagi Ame Naryama, lagu tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan cerita yang hidup di tengah masyarakat. Ame Naryama mengaku kerap mengambil inspirasi dari kisah-kisah unik hingga peristiwa sehari-hari yang kemudian dirangkai menjadi karya yang mampu menyentuh perasaan pendengar.
“Sering ada cerita-cerita di masyarakat yang menarik atau sedikit nyeleneh, kemudian saya rangkai menjadi kisah yang bisa membuat pendengar ikut merasakan atau baper,” ujar Ame Naryama.
Seiring berkembangnya zaman, fenomena ini juga menunjukkan adanya regenerasi penikmat lagu pop Bali, khususnya di kalangan generasi muda. Untuk menjawab selera tersebut, Ame Naryama lebih banyak menghadirkan lagu bergenre melow yang saat ini tengah digemari.
Sejumlah karya yang telah dihasilkan Ame Naryama di antaranya Care Ngae Penjor yang dipopulerkan Bagus Parijata, Sing Puas-Puas oleh Tasya Puspawati, Ngetohin Keluarga oleh Dedi Loji, Rejeki Sing Metukar oleh Satya Darma, hingga Mebukti yang dibawakan Bayu Takur. Selain itu, Ame Naryama juga tengah menyiapkan beberapa karya baru.
Dalam proses kreatifnya, Ame Naryama memiliki cara yang berbeda dibandingkan pencipta lagu pada umumnya. Ame Naryama tidak menggunakan alat musik gitar, melainkan mengandalkan pemahaman terhadap nada dan melodi, kemudian merekam ide lagu secara sederhana sebelum diproses lebih lanjut.
Pemanfaatan teknologi AI dilakukan pada tahap pembuatan demo musik. Lirik dan nada tetap diciptakan oleh Ame Naryama, sementara AI digunakan untuk membantu menyusun aransemen musik sesuai kebutuhan. Setelah demo siap dan ada penyanyi yang akan membawakan, proses rekaman dilanjutkan di studio untuk menghasilkan karya final.
“Teknologi seharusnya tidak ditakuti, melainkan dimanfaatkan sebagai alat untuk memperkuat kreativitas seniman,” tegas Ame Naryama.
Pendekatan kreatif tersebut mendapat respons positif dari pendengar. Salah satu penggemar, Ni Luh Suasti, menilai karya-karya Ame Naryama memiliki kedekatan emosional dengan kehidupan sehari-hari.
“Saya sangat menikmati karya-karya Ame Naryama karena liriknya dekat dengan kehidupan sehari-hari dan mudah dirasakan. Lagu-lagunya tidak hanya enak didengar, tetapi juga punya makna yang dalam. Apalagi dengan sentuhan aransemen yang kekinian, membuat lagu Bali terasa lebih segar dan relevan bagi generasi muda,” ujar Ni Luh Suasti.
Dengan pendekatan yang memadukan teknologi dan kearifan lokal, Ame Naryama berharap lagu pop Bali semakin diminati dan memiliki ruang yang lebih luas, khususnya di kalangan generasi muda, sehingga tetap lestari di tengah arus perkembangan zaman. (tut/rls)
